Jumat, 23 Maret 2012
ENTAH SETAN OR MALAIKAT #3 by: @Vhenatasya Karya : Vhenna *Cerita Ini Hanya Fiktif* ###***###***###***### “Rafael…!!” Flora berteriak dan melompat hingga berdiri tepat di depan meja Rafael. Rafael memang duduk di barisan paling depan. Rafael kala itu sedang membaca buku, entah buku apa yang di bacanya. Buklunya sangat tebal, seperti kamus Bahasa Inggris yang besar. Tapi, tentu saja ini bukan kamus bahasa Inggris. “Ada apa lagi?” tanya Rafael. Tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang di baca. “Tadi waktu berangkat, aku lihat kamu bicara dengan 2 orang.” “Ya, memang.” “Siapa?” “Tidak penting bukan? Nanti juga kau tau sendiri.” Flora tersenyum. “Sana kembali ke kelasmu.” usir Rafael. Nampaknya Rafael sangat tidak senang melihat senyuman, bahkan senyuma Flora sekalipun. Flora berjalan ke kelasnya dengan perasaan campur aduk. Dia masih senang dengan kejadian kemarin, kejadian di mana Rafael mau di ajaknya melihat matahari terbenam. Tapi, dia juga sedih. Karna Rafael tidak juga merubah sikapnya. *#*#*# “Nama saya Handi Morgan Winata. Panggil saya Morgan.” ucap seorang pria bertubuh kekar, tampangnya tak beda jauh dengan Rafael, pucat. Tapi pesonanya luar biasa. “Saya Ilham.” ucap seorang lagi di samping Morgan. “Kalian duduk di barisan ke 2 ya..” Guru itu menunjuk ke sebuah meja. Tepat..! meja itu di belakang Rafael. Kenapa bisa? Karna Rafael,Morgan dan Ilham, bisa melakukan apapun. Mereka duduk di barisan ke 2, menghadap ke Rafael, dan Reza. Sebenarnya Reza adalah kakak dari Ilham. Namun tentu saja Ilham yang dulu. Bukan Ilham yang sekarang. Reza tahu betul Ilham yang sekarang itu, bukan Ilham adiknya. Hal itu juga yang membuat Reza bersedia membantu Rafael,Morgan dan Ilham. Agar Ilham segera kembali. *#*#*# “Kapan kalian semua akan pergi dari raga-raga yang kalian pinjam ini?” tanya Reza saat mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah Reza dan Ilham. Tak ada jawaban. Mereka semua hanya mengangkat bahu. “Ayolah.. Kapa kalian menjalankan misi ini?” tanyanya lagi. “Secepatnya.” kali ini Rafael mengangkat suara. “Tapi, ingat.! Loe harus tetap jaga rahasia ini.” Rafael melihat Reza. “Pasti. Walaupun sebenarnya gue gak rela, liat Flora yang jadi sasaran loe.” “Loe lebih pilih adik loe bukan di banding Flora?” tanya Ilham, yang di jawab dengan anggukkan kepala Reza. “Kita fikirkan caranya. Jangan berdebat tak jelas.” Morgan berkata agak kesal. Mereka semua terdiam. Reza tak menyangka bila ia harus ada dalam posisi seperti ini. Entah apa yang harus Reza lakukan. Dia terbebani dengan pilihan yang terlintas di depannya. Apakah dia harus berbuat jahat pada Flora tang di kenal gadis ceria itu untuk mendapatkan kembali ruh adiknya? Atau dia dapat membiarkan Flora bahagia tanpa terganggu dengan mereka bertiga, dan kehilangan adiknya. Tapi itu terjadi jika Flora percaya. Bila flora tak percaya, pasti Flora mengira Reza gila. “Jangan memikirkan Flora, dan dia jelas akan menganggapmu orang gila.” ucap Morgan. Kali ini Reza menyadari kebodohannya. Mengapa dia harus menggerutu dan menentukan pilihan dalam hati di depan mereka? Mereka pasti bisa membacanya. “Maaf,” jawab Reza tertunduk. “Aku akan melakukannya sekarang.” Rafael berdiri dari sofa yang didudukinya. Dan segera beranjak pergi dari rumah itu. Morgan, Ilham dan Reza yang melihat terlihat bingung. Kenapa tak bisa ku dengar apa yang difikirkan Rafael selama dia diam tadi? Ilham dan Morgan bertanya dalam hati. “Kita diam disini? Atau mengikuti langkah Rafael.” Tanya Reza yang bingung. “Kita lihat dari sini.” Morgan menatap tajam pada layar televise yang terletak di depannya. Layar TV 21 inc itu menyala seketika. Jelas Reza tidak heran lagi, dia telah biasa menghadapi keajaiban-keajaiban dalam hidupnya. Tepatnya saat mereka singgah di hidup Reza. Dari layar itu, terlihat Rafael yang berdiri di depan rumah seseorang. Entah apa yang akan dia lakukan. Fikiran Morgan dan Ilham tak dapat mendengar dan membaca apa yang ada dalam benak Rafael, mungkin karena Rafael tidak berfikir lagi untuk melakukan sesuatu. Atau karna Ilmu Rafael lebih besar di bandingkan mereka? Entahlah..!! *#*#*# “Rafael..” Senyum Flora mengembang seketika, Rafael.. Lelaki yang selalu ia cintai ada di hadapannya saat ini. “Ada apa?” Tanyanya. “Aku ingin putus.” Rafael berkata tenang. Namun, tidak dengan Flora. Matanya terasa perih, seperti telah dimasukkan debu. Hatinya rusak, seperti telah di cabik oleh pisau belati. Tubuhnya terasa remuk, seakan tertimpahan runtuhan bangunan yang membuatnya sulit bernafas. Dia memejamkan matanya cukup lama. ‘Sadar Flora.. Rafael gak akan mutusin kamu. pasti yang berdiri di depan kamu bukan Rafa.! Kapan Rafa pernah menginjakkan kakinya kesini? Rumahku pun Rafa gak akan tau.’ Flora membatin. “Buka matamu.. Aku tak jadi memutuskanmu. Tapi kau harus melakukan sesuatu.” sambung Rafael. Flora membuka matanya perlahan, dengan suara getir, dia coba menjawab. “Apa yang kau ingin kan dariku?” Apa ya? Dan gimana kelanjutannya? Buku apa yang di baca Rafael? Nanti aja deh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
jujurb aja aku nggak nggak ngerti sama ceritanya , bikin bingung
BalasHapus