Jumat, 23 Maret 2012
ENTAH SETAN OR MALAIKAT #1 (cerbung) by: @Vhenna_Vhen *#*#*#*#*#*##**#**## Jlegaaarrrr…. Petir itu sangat nyata terdengar,suaranyayang nyaring membengkakkan kuping. Sepertnya dewa langit murka. Terlihat sekali dengan awan hitam yang menyelimuti langit, disertai petir yang kian bertambah kencang. Tetapi, hujan tak jua muncul. Blaarrr.. Jlegaarrrrrr… Ini lebih kencang lagi. Apa yang di inginkan dewa langit? Dia berkali-kali mengeluarkan amukannya melalu petir-petir ini. “Aku memerintahkanmu untuk terus menidurkan roh-roh itu. Hingga masa hukumanmu itu berakhir.” Terdengar amukan dari cahaya hitam itu. Kehidupan di dunia hitam yang sangat penuh kebencian, kini gempar karna ulah selah satu dari mereka sendiri. “Maaf dewa, maafkan saya.” “Jangan sekali-kali kamu menyentuh roh itu lagi.! Jika tidak, maka Dewa yang Maha Agung atau Dewa di Atas Semua Dewa,akan mengutukmu. Mengerti…!!!?” Suara lantangnya terdengar ke seluruh pengisi langit. Tak ada yang berani melawan Dewa langit, kedudukan dan ketegasan yang dia milikki adalah senjata ampuh untuk membuat orang tertunduk padanya. *#*#*# “Rafa..” teriak seorang wanita yang berlari menghampiri Rafael, lelaki tampan yang dengan sejuta pesona. Rafa menoleh, dan kemudian menggerakkan kepalanya untuk kembali ke posisi semula. Dia terus berjalan, tak sedikitpun dia menghiraukan panggilan gadis itu. “Rafa.” gadis dengan rambut indah terurai yang tadi memanggil Rafa menepuk bahunya. Rafa membalikkan badannya. “Oh, sudah di belakang rupanya.” “Iya..” Rafa kembali membalikkan badan. “Rafa.. Ihh..!” gadis ini menghentakkan kakinya ke tanah. Dan kemudian berlari kecil mensejajari langkah Rafael. “Rafa, kita ke kelas bereng ya..” tawarnya. Dia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Rafael. Namun tak ada jawaban, Rafael tetap berjalan menuju kelasnya. Namun, dia tak menyerah. Dia berlari kecil agar bisa berdiri di depan Rafael. “Rafa jawab.!” “Oke, Flora sayang. Ke kelas bareng.” Rafael akhirnya berbicara. Walaupun dengan nada yang sangat terpaksa. “Nanti kita pulang bareng ya? “ Flora berjalan mundur di depan Rafael. Rafael tak menghiraukan, dia justru memasukki ruangan. Flora mendongak, dia melihat tulisan di atas pintu XII IPA.3. Ahh.. Sudah tiba di kelas Rafa rupanya. Ucapnya dan kemudian membalikkan badannya,menuju ke kelas. *#*#*# “Kenapa sikapnya sedingin itu? Buat apa dia menembakku dulu?” Flora berkata sangat pelan saat telah duduk manis di kursinya. Flora muak dengan sikap Rafael. Entah kenapa dia merasa Rafael berubah semenjak berpacaran dengannya. Tetapi dia selalu ingat dengan saat pertama berpacaran dengan Rafael, hanya itu kekuatannya untuk bertahan. Dia yakin, Rafael pasti berubah. *#*#*# Tak ada bunga yang mekar disini. Pemandangannya pun sangat kotor. Bahkan, berulang kali kakinya jatuh ke kubangan air yang menghiasi jalan. Tapi, Flora tetap berjalan, dia mencari sesosok lelaki yang ‘katanya’ ingin menemuinya. “Rafael,” Flora memeluk tubuh Rafael dari belakang, dia menemukan kekasihnya yang berdiri di depan danau keruh, airnya kotor, sampah berserakan dan mengapung di atasnya. “Mengapa di tempat seperti ini Raf?” tanyanya, masih tetap memeluk Rafael. “Entah.! Aku suka tempat seperti ini.” Rafael tak beranjak sedikitpun. Untuk berbalik badan dan melihat Flora saja tak dia lakukan. Flora melepas pelukannya pelan. “Suka? Kenapa?” “itulah kehidupan.” Rafael berbalik. Bukan untuk melihat kekasihnya yang berdiri dengan perasaan bingung, tapi untuk mengambil tasnya yang ada di kursi, kemudian beranjak pergi. Flora berlari menyusul Rafael yang sudah mulai jauh. “Kok ninggalin aku sih? Kan kamu yang ajak aku ketemu.” “Aku tak sadar dengan telepon tadi. Maaf,aku tak ingin mengajakmu ke tempat itu.” “Rafa.!! Kenapa sih kamu?”Flora menarik tangannya, agar Rafael tak melanjutkan jalan. “Kenapa? Apanya sayang?” tanya Rafael pelan, dia mencium kening Flora. Romantisnya kembali muncul. “Tadi kau begitu dingin, sekarang kau malah mencium ku. Manusia aneh.!” “Entahlah.! Bukan aku yang mencium mu.” Flora tertegun. “Tadi kau yang mencium ku.” “Aku tak menciummu.” Flora mendesah. Sudah kesekian kalinya Rafael melakukan hal ini. Bila Flora mengingatnya, rasanya ia seperti berpacaran dengan orang gila. Apa Rafael gila? Tentu tidak.! Flora yakin, bahkan sangat yakin. Rafael pasti akan merubah sikap acuh itu kepadanya. Dan dia pasti mencintai Flora. *#*#*# Seseorang dengan baju berjubah hitam, mata sayu yang dilingkari warna hitam sekitarnya, bibirnya yang biru terlihat pecah, memperhatikan mereka dari kejauhan. “Roh itu akan abadi.” dia tersenyum sinis dan kemudian hilang. Penasaran dengan cerita ini? Atau bingung? Sama saya yang buat aja bingung.(lho?) Hahaha. :-D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar